Blog ieu sekadar carita tentang sim kuring, buku2 nu di baca ku sim kuring, puisi nu kuring karang, sagala paristiwa nu kaalaman.. pokokna mah, simkuring.com!! hahahahahaha ................. *This blog consists of everything I've done. Books were read, what I feel, what I imagined. It tells all about me. Just all about me!! x)))

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Catatan sekilas (kadar cinta)

Wednesday, February 03, 2010
1.571 am
Tadina mo langsung tidur, entah..ketika w pejamkan mata ini, jadi keingetan bikin puisi yg ada sangkut pautnya ma kimia,,jadi inget Bu Ye’ qiqiqiqiqi9x x)
Guru yg paling w saluti atas kedisiplinan n perfeksionisnya, terimakasih Bu, saya belajar banyak dari Anda.

Jika kau ukur kadar cintaku secara titrimetri
Tak kan kau dapati titik akhirnya.
Begitu pula bila kau tetapkan cintaku secara spektrofotometri,
Tak jualah kau temukan lamda max.nya,
Karena cintaku adalah warna-warni,
Yang kan mewarnai harimu, tanpa batasan, tak terhingga.
Bila pun kau tetapkan kemurnian cintaku secara gravimetri
Untuk sampai bobot tetap saja, kau tak kan bisa
Karena cintaku tidak mengarang, tak pula mengabu.
Tetap utuh, seberapa pun tingginya suhu kau coba tuk membakarnya,
Tetap utuh, tak lekang dimakan oleh asam kuat sekalipun,
Pun tak kan pernah mengendap karena basa kuat.
Cintaku tak layaknya intan dan permata,
Karena memang cintaku lebih berharga dari itu semua...


Cibaduyut, Bandung
2.14am
[ Read More ]

Catatan sekilas (tahu diri)

Monday, February, 01, 2010
3.36am
Awal ferbuari ini, tanggal 1. Malas tidur. Menunggu pagi, jadi inget lagu na peter pan. Itulah yang ku lakukan sekarang, menanti mentari, barulah aku beranjak tidur. Awal februari ini, mengingatkanku akan dirinya. Beginilah kiranya;
Orang bilang ; laki-laki yang baik-baik akan mendapatkan perempuan yang baik-baik pula.
Engkau adalah laki-laki yang baik-baik, sedang aku?
Aku tahu diri,
Tak perlulah ku bertanya pada bintang “pantaskah ku mengharap cintamu”
Sudah pasti jawabnya tidak, pun bintang belum tentu sudi menjawab makhluk sepertiku,
Hina dan dina.
Aku tahu diri,
Mungkin bagimu aku hanya seonggok sampah yang berjalan
Kotor, bau, dan tiada guna!
Rongsokan!
Tapi jangan salah, aku tetap sedap di pandang oleh kucing-kucing liar,
Karena mereka mencari makan dan tinggal di tempatku.
Mereka membutuhkanku. Sedang aku membutuhkanmu. Namun kau tak membutuhkanku.
Kita layaknya rantai makanan yang tak pernah tersambung.
Tak seimbang, tak sesuai hukum piramida.

Aku tahu diri,
Aku tak mungkin mendapat cintamu
Seharusnya aku tahu diri
Bahwa aku pun tak semestinya berharap.
Tapi aku teringat akan buku yang pernah ku baca ; “hidup ini memang berat. Beberapa penyakit belum ada obatnya, terkadang beberapa masalah tidak ada jalan keluarnya. Tapi dari kenyataan seberat itu pun, selalu ada harapan’
Karena itulah aku tak pernah berhenti berharap,
Mungkin aku tak kan pernah bisa mendapatkan cintamu.
Tapi cintaku padamu bukan untuk memilikimu,
Cintaku padamu adalah kebahagiaanku
Dan tangisku untukmu adalah kenikmatan tersendiri

3.52am (Tahu Diri)
[ Read More ]

Catatan sekilas (terbawa perasaan)

Bukan kayak Angel's diary,
ni catatan emank ga sengaja dibuat, terlintas begitu saja,
makana w sebut "Catatan sekilas"
nggak kayak note2 w sebelumna, yang selalu bersambung 1- tak terhingga,
kini catatannya w kasih judul, biar lebih terngiang di benak para pembaca setya mui's note...heuheuheu9x x)

kita liat catatan sekilas pertama gue,

Monday, February 01, 2010
2.40am
Tepatnya sih semalam, gue nangis. Hah jangan tanya kenapa, karena alasannya memalukan “rindu setengah mati” begitulah kata d’massive, saat denger lagu itu pulalah gue nangis. Tapi apakah itu hal yang memalukan? Nangis karena “rindu setengah mati. Kata temen gue “mu, ieu mah terbawa perasaan. Di pendem lila, jadi bae numpuk! Dasar awewe, urang mah teu ngarti” ya kira-kira seperti itulah perkataanya. Intinya gara-gara perasaan yang dipendam lama, jadi tertumpuk dan akhirnya membludag jadi sebuah tangisan. Tngisan rindu mungkin ini bisa disebut seperti itu. Bagaimana tidak rindu ini tidak menumpuk? Sedang tiap hari, tiap saat aku rindu kepadanya, sedangkan tak ada cara jangankan untuk menyalurkan kepadanya, mencurahkannya pun tak bisa. Dia di antah berantah, layaknya jaman purba, komunikasi jarak jauh sungguh sulit. Mengapa? Bukan karena teknologi, tapi karena keinginan, mungkin sudah niatnya seperti itu. ya sudahlah, apa noleh buat. Tak boleh lah aku memaksakan kehendak. Tuhan saja Maha Berkehendak, tak sembarangan paksa-paksa orang, selalu Dia kasih pilihan-pilihan kepada kita, walau terkadang pilihan itu sulit, menjelimet. Tapi itulah cara kerjanya Tuhan, selalu senang dengan surprise. Aku tak tahu dimana rimbanya. Mungkin keadaan seperti ini pulalah yang jadi inspirasi ermy kulit buat nyanyi, Pasrah :
“Kemana lagi, dimana lagi harus ku cari tempat untuk bertanya. Burung pun tiada, angin pun tiada bawa berita. Kalau begini aku tak tahu bagaimanakah lagi. Biarlah semua akan ku pasrahkan, pada yang Illahi”
Aku tau, aku bukan siapa-siapa apalagi baginya. Tak berhak dan tak berkewajiban. Tapi adakah salah dengan rasa rindu ini? yang sering ku dengar adalah “cinta tak pernah salah” sampai detik ini, belum sekali pun aku dengar “ rindu tak pernah salah”. Jadi, boleh kah mulai saat ini kuota itu di syahkan?
Pikir dipikir, gue jadi kepikiran ama pernyataan temen gue tadi “terbawa perasaan”. Adakah yang salah dengan terbawa perasaan? Bukannya hidup ini tak hanya dijalani dengan akal saja?perasaan pun ikut andil. Bahkan kita menjalani hidup pun ‘terbawa perasaan’ . contoh; ketika perasaan kita sedang marah, ya bawaannya jutek, kesel; lagi jatuh cinta, berseri-seri ; lagi sedih, ya cemberut, menangis. Apa salahnya? Dan apa susahnya untuk dimengerti? Kalau boleh dibalikkin, “Dasar cowok!ngertiin aja ko susah!”. Kenapa cewek susah dimengerti dan cowok susah mengerti cewek? Tak semudah dengan jawaban “karena cowok pake 9 akal dan 1 perasaan, sedang cewek 9perasaan dan 1 akal”. Yang jadi masalah adalah, cewek selalu berusaha ngertiin cowok nya, oleh karena itu ga ada dalil “cowok susah dimengerti” lha sekarang balik tanya ke para cowok, sudah berusaha sebesar apakah Anda mencoba ngertiin cewek???
Tangisan rindu teruntukmu 1 februari
3.08am (Terbawa perasaan)
[ Read More ]

Bodoh!!! the end

Ku buka mataku, kulihat buram cahaya putih. Ah, inikah syurga? Sungguh ku tak menyangka, orang hina sepertiku dapat memasukinya, atau kah malaikat maut salah menempatkanku. Lalu kudengar gaduh seiring dengan kesadaranku yang meningkat. Ku lihat orang berbaju putih mendekatiku, menyinariku dengan sinar yang membuat mataku silau.
Lalu kembali suara gaduh. Masih belum jelas pendengaranku, tapi penglihatanku sedikit mulai fokus. Aku ada di rumah sakit. Hah rumah sakit? Aku bertanya pada diriku sendiri. Mimpikah ini? ataukah kejadian tadi yang ku alami itu yang mimpi? Bagai mana bisa aku disini?. Kurasakan nafasku tak sempurna, tabung oksigen rupanya disambungkan ke hidungk. Ku coba menegakkan tubuh, berharap bisa memandang kesekeliling, tapi tak bisa. Hanya bola mata ku gerakkan berputar, berharap luas jangkaun pandangannya, untuk mencari tahu apa yang aku sendiri tak tau apa yang kucari. Dan kulihat orang berbaju hijau mendekatiku, semakin mendekat, kemudian tampak jelas, bahwa itu kau. Aku tak bisa berekspresi, seakan sel-sel syaraf di otakku masih belum tersambung satu sama lain, bingung mencari jalannya masing-masing setelah kekacauan yang terjadi. Aku juga bingung.
Kau tersenyum padaku, aku pun ingin membalas senyum mu, tapi tak bisa. Beku yang kurasakan dalam hatiku. Entah harus bersikap apa kepadamu. Waktu itu, aku tersenyum bahagia melihat dirimu sebelum ku menutup mata. Sekarang setelah ku membuka mata dan yang ku lihat adalah kau, apakah aku harus kembali tersenyum?.

Tiga hari sudah aku tak berkutik di ranjang ini. Sampai akhirnya dokter mengizinkanku pulang. Orangtuaku menjemputku, begitu pula kau dan dia. Ku lihat dia memandangku sekilas, lalu menunduk, malukah?takutkah? aku tak tahu.
“Kamu tuh gimana sih?kok bisa masuk rumah sakit kayak gini?kok bisa luka bakar kayak gini?” Mamih, seperti layaknya ibu-ibu yang lain, langsung nerembel melihat anak gadis nya terluka. Heran, apa jadinya kalau beliau tahu luka di dalam sini? Akan nerembel seperti apa?
“Nggak apa-apa kok mih, ini gara-gara kompor meledug (alasan yang langsung terlintas begitu saja, mengingat lagu Alm.benyamin S. “kompor meledug”)”
“Kompor meledug? Gimana bisa? Memangnya kamu lagi ngapain? Kenapa nggak suruh si bibi aja?” Aku menatap ke papihku, isyarat “please bungkam mulut mamih”.
“Sudahlah Mih, kasihan kan, wong baru sembuh langsung di interogasi. Bo ya nunggu nyampe rumah dulu, begitu” Papih angkat bicara, Mamih pun diam. Aku tersenyum kea rah Papih, tanda terima kasih. Papih dan Mamih pergi duluan ke mobil. Sedang aku sejenak disini, ada yang ingin ku bicarakan kepadamu dan dia.

Dia terus menunduk dan menatapku sesekali, kemudian menunduk lagi, seperti bersungut. “Ehm..” Aku memulai pembicaraan.
“Ke taman yuk, biar enak ngobrolnya” ajak ku. Taman Rumah Sakit, tidak lah besar, tapi cukup indah untuk bersantai sejenak dari ‘sakit’. Kami bertiga, aku, kau dan dia duduk di salah satu kursi yang ada di pojok taman, menghadap air mancur.
“Sungguhpun aku minta maaf pada kalian berdua”
“Kau tak perlu minta maaf, seharusnya kami terutama istriku yang minta maaf kepadamu”
Kata-istriku- yang keluar dari mu, terasa ‘jleb’ pada jantungku. Tak boleh begini, aku harus terbiasa menganggapmu bukan siapa-siapa. Aku teguhkan dalam hati. Kau menyenggol istrimu, berisyarat. Dia pun memandang ke padamu, lalu ke arahku “Maaf” katanya singkat. “Aku rela jika kau mau menyeret dia ke penjara” Kau berkata rela, tapi istrimu yang mendengar itu, kaget bukan kepalang.
“Tak perlulah seperti itu, aku tak ingin melanjutkan rantai kebodohan balas dendam ini, tak kan berujung. Disini pun aku ikut bersalah serta. Aku minta maaf kepada kalian berdua, terutama kau, kakakku. Maaf kan aku yang tak bisa menahan hasrat ini, semoga kau mau memaafkan segalanya, bukan hanya salahku, tapi juga salah Bapakku, semoga kelak kita bisa membuka lembaran baru dengan penuh kasih, tulus. Aku mohon maaf kepadamu” Aku sungkem padanya, entah bagaimana ekspresinya, aku tak peduli. Yang pasti aku benar-benar tulus ingin memperbaiki semua salahanku. Tak ada sambutan apapun darinya. Mungkin hatinya terluka dalam dan terlalu komplikasi, aku mengerti. Aku pun berdiri dan menatapmu. “Disini saatnya, benar-benar kita mengakhiri cerita cinta kita. Ku harap kau bisa menganggapku sebagai adik dan mencinta kakakku, istrimu setulus hatimu, benar-benar karena dia adalah dia, kakakku.” Kau menatapku, seraya berkata tak bisa “Aku tahu akan sulit, tapi perlahan, pasti bisa. Aku ikhlas melepasmu, aku tulus, aku rela. Ku harap kau pun begitu”. Aku tersenyum padamu, lalu pada dia. Kemudian menggenggam tangan mu dan tangannya, dan menyatukan genggaman tangan kalian, seraya melepaskan genggamanku. Aku beranjak pergi meninggalkan kalian berdua, hanya berdua, bayangku pun ikut serta bersamaku.

Aku menangis dalam langkahku,
Terlalu banyak derita telah aku ciptakan.
Sakit ini tak sebanding dengan kebahagiaan yang kau berikan,
Pun dengan yang tersakiti karenanya
Jadi biarkanlah,,cukuplah aku
Aku saja yang menyimpan cinta ini, cinta kita
Biarkan aku sendiri yang mendekapnya erat,
Tak kan ku bagi lagi kepadamu, ataupun yang lainnya
Aku tulus, menyimpan kenangan ini begitu pun
Aku tulus merasakan sakitnya seperti halnya
Aku tulus, mencintaimu.
Cukuplah aku sendiri,
Yang melanjutkan kebodohan ini hingga akhir……

Maafkan ku harus meninggalkanmu,
Maafkan bila hatimu terluka
Tetapi hatiku hanya milikmu
karena kaulah yang terakhir untuk diriku
Ku akan slalu mencintaimu sampai aku tinggalkan dunia ini,
Ketulusanku tak akan berubah walau kita tak mungkin untuk bersatu
selamanya.


Cibaduyut, Bandung
01 Feb’ 2010, 2.16am

(Sengaja namatin tgl segini, hadiah ulang tahun buat Man N&F)
[ Read More ]